Antara Roy Suryo dan Donald Knuth

Siapa yang tidak kenal Roy Suryo? Meski banyak dihujat orang, ‘ahli’ telematika (dan ‘-tika -tika’ yang lain) yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Apalagi kalau mereka sering mengakses internet. Yeah, you’re included. After all, you read this blog post, right?

Dan siapa pula yang tidak kenal dengan Donald Knuth? Meskipun lebih asing di telinga orang Indonesia, orang yang satu ini punya masterpiece yang jauh lebih melegenda, yaitu TeX – sebuah perangkat lunak untuk penulisan publikasi – dan The Art of Computer Programming – seri buku tentang pemrograman komputer yang masih belum juga selesai -.

Lalu mengapa saya membandingkan kedua tokoh ini? Keduanya punya lahan olahan yang berbeda, umurnya berbeda puluhan tahun, khalayaknya berbeda, kharismanya berbeda, dan seterusnya dan seterusnya.

Pada penulisan artikel-artikel saya terdahulu saya menyinggung tentang optimasi pada program. Dan bisa ditebak, ada satu kutipan yang sering diambil orang kalau berbicara tentang optimasi:

We should forget about small efficiencies, say about 97% of the time: premature optimization is the root of all evil

Kalau boleh saya terjemahkan bebas:

Kita harus melupakan, katakanlah sekitar 97% dari efisiensi yang hasilnya kecil: optimisasi prematur adalah akar dari segala kejahatan

Para pemerhati Roy Suryo selalu dengan setia mendengarkan perkataan Roy Suryo dan menangkap semua titik koma kesalahan dari sang pakar ini. Salah satunya, konon kabarnya, Roy Suryo pernah berkata bahwa “68% data di Friendster itu palsu“.

Bisa mulai terlihat kemana arah tulisan saya?

Ada dua nilai prosentase yang terlihat di sini: 97% dan 68%. Darimana keduanya? Yang jelas, cukup banyak yang mempertanyakan nilai 68%. Tapi saya nyaris tidak menemukan mereka yang mempertanyakan nilai 97% dari Pak Knuth.

Penasaran dengan ini akhirnya saya pun bertanya pada publik: I’m curious how Knuth came up with 97%. Could someone please share something about this?

Bisa ditebak, karena traffic ke website saya sedikit, tidak ada yang menjawab pertanyaan ini. Masih penasaran dengan pertanyaan ini akhirnya saya pun bertanya ke forum yang lebih besar: StackOverflow.

Jawabannya bisa ditebak… semua orang tidak tahu.

Jadi sebenarnya, antara Roy Suryo dan Donald Knuth ada persamaan yang bisa kita tarik. Bahkan kalau saya mau jujur, pernyataan Knuth jauh lebih fatal karena ditulis dalam sebuah paper yang masih dibaca sampai saat ini. Alasannya, yang meskipun bukan satu-satunya, mendasari jawaban mengapa goto statemen harus dihapus dari bahasa pemrograman. Sedangkan pernyataan Roy Suryo, sejauh yang saya tahu, hanya pernyataan informal yang diucapkan secara lisan dan akibat paling buruknya pun hanya membuat geger belantika internet Indonesia.

Mengapa itu bisa terjadi? Apa kita orang Indonesia terlalu berlebihan dalam menyikapi pernyataan Roy Suryo? Bisa dilihat dalam jawaban atas pertanyaan saya di StackOverflow bahwa pembuatan angka statistik bahkan dalam sebuah research paper bisa dimaklumi oleh banyak orang. Semua orang tahu kalau statistik itu adalah kebohongan yang paling besar. “There are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics.” Komik Dilbert ini menarik.

Atau jangan-jangan pondasi keilmuan kita ini sebenarnya masih banyak yang dibangun di atas prinsip-prinsip subjektif seseorang?

Atau karena kita masih menilai pernyataan seseorang dari pandangan kita terhadap orang tersebut? Kalau orang itu buruk, maka semua omongannya jadi buruk? Kalau orang itu hebat, maka semua omongannya jadi hebat?

Tambahan: mungkin malah Roy Suryo benar dengan pernyataannya bahwa blog hanya trend sesaat. Buktinya, trend saat ini kan twitter 😛

Jangan diambil hati, tulisan ini cuman guyonan karena kesel pertanyaannya tentang 97% diabaikan dan juga jangan diartikan saya pengagum Roy Suryo, aduh jangan deh. Plis, bitte, mohon, dengat sangat…

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *